Kamis, 19 November 2009

Bunuh Diri

Bunuh Diri adalah salah satu fenomena yang telah mewabah di masyarakat kita. Kita acap kali menjumpai kasus bunuh diri di berbagai media massa. ini merupakan pemandangan yang memiriskan hati, sebab ini terjadi di kalangan semua umur, baik pada usia produktif ataupun usia yang tidak lagi produktif. bunuh diri juga di latar belakangi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal.
berikut adalah teori tentang bunuh diri oleh Emile Durkheim (1858-1971)
jenis bunuh diri :

Bunuh diri egoistis : disebabkan oleh egoisme yang tinggi pada orang yang bersangkutan. Egoisme adalah sikap individu yang tidak berintegrasi dengan grupnya, kelompoknya, kumpulannya, kumpulan agama dan sebagainya. Kalaupun ia berada dalam sebuah grup ia tidak total berada di dalamnya. Hidupnya tertutup untuk orang lain. Ia mengalienasi diri. Ia terutama memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri. Tujuan hidupnya demi kepentingan dirinya sendiri.

Orang yang egoismenya tinggi begini ketika mengalami krisis tidak bisa menerima bantuan moral dari grupnya. Ia sendirian, tanpa relasi dan berada di luar grupnya. Kesendirian dan kesepiannya tak teratasi. Dunia menjadi gelap. Ia dengan mudah bisa terjerumus oleh sikapnya yang sudah egois untuk mengakhiri hidupnya. Orang yang egois cenderung untuk melihat segala sesuatu dari ukurannya sendiri, tanpa memandang dunia yang ternyata tidak hanya seluas daun kelor.

Bunuh diri altruistis : sebagai kebalikan dari bunuh diri egoistis. Individu terlalu berlebihan dalam integrasi dengan grup atau kelompoknya hingga di luar itu ia tidak memiliki identitas. Kelompoknya adalah identitasnya. Pengintegrasian yang berlebihan biasanya berdimensi memandang hidup di luar grup atau dalam pertentangan dengan grup sebagai tidak berharga. Dalam konteks ini Durkheim mengambil contoh konkret orang yang suka mati syahid daripada menyangkal agamanya dan para prajurit dan perwira yang berani mati gugur demi keselamatan nusa dan bangsa. Esprit de corps kuat! Kalau seorang anggota, yang berintegrasi kuat dengan grupnya, mengalami suatu hal yang membuat hidupnya dengan hormat tidak mungkin lagi di dalam grup, ia akan lebih cenderung mengakhirinya.

Bunuh diri akibat anomi : Anomi atau normlessness adalah keadaan moral dimana orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya. Nilai-nilai yang biasa memotivasi dan mengarahkan perilakunya sudah tidak berpengaruh. Adapun penyebab yang sering dijumpai yaitu musibah dalam bentuk apapun. Kehadiran musibah menghantam cita-cita, tujuan dan norma hidupnya sehingga ia mengalami kekosongan hidup. Hidup terasa tidak berharga. Pada kontek inilah, di Indonesia kasus bunuh diri meningkat tajam sehingga orang rela bunuh diri dengan membakar diri, gantung diri, minum racun dan sebagainya. Banyak orang kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya.

Keadaan anomi melanda masyarakat karena adanya perubahan sosial yang terlalu cepat. Nilai-nilai tradisional tidak mampu menjawabi persoalan-persoalan yang lahir dari perkembangan zaman. Di sisi lain juga dijumpai fakta bahwa suatu masyarakat yang tidak tidak peduli dan menjarak dari masa lampau dengan mengutamakan masa depan akan mudah terjerumus pada anomi. Dengan demikian perlu keseimbangan dalam melihat nilai-nilai yang ditawarkan oleh dunia. Nilai-nilai yang ditawarkan agama dari hari ke hari juga harus dinamis sesuai tuntutan jaman.


Sebab bunuh diri menurut Supratiknya (1995)
1. Depresi
2. krisis dalam hubungan interpersonal
3. kegagalan dan devaluasi diri
4. Konflik batin
5. Kehilangan makna dan harapam hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar