Rabu, 14 April 2010

Gejala Diskalkulia

  1. kesulitan dengan aritmatika, bingung dengan tanda : + – : x (kesulitan mengenali pola ketika menjumlah, mengurangi, mengalikan, membagi)
  2. kesulitan mengerti konsep nilai, jumlah, urutan angka, angka positif dan negatif
  3. kesulitan mengurutkan informasi atau peristiwa
  4. kesulitan menggunakan langkah-langkah dalam operasi matematika
  5. kesulitan mengerti bagian-bagian (setengah, sepertiga, seperempat)
  6. Tidak mampu menyatakan angka mana dari 2 angka berbeda yang nilainya lebih tinggi
  7. Kesulitan dengan tugas sehari-hari seperti menghitung uang kembalian atau membaca jam analog
  8. kesulitan dengan konsep waktu dan mengukur berapa lama waktu (hari, minggu, jam, setengah jam, seperempat jam)
  9. kesulitan dengan arah kiri dan kanan, utara, selatan, timur, barat, walaupun dengan bantuan kompas
  10. kesulitan memperkirakan ukuran suatu benda atau jarak
  11. kesulitan membaca urutan angka, atau membalik angka ketika diulang, misalnya 56 jadi 65

Definisi Diskalkulia

Diskalkulia adalah kesulitan untuk melakukan hitungan matematik. Diskalkulia bisa terjadi pada siapapun dan tidak tergantung pada intelektualnya (IQ), di mana mereka mengalami kesulitan dengan waktu, pengukuran, dan pemikiran sebab akibat.

Gejala Disgrafia

Beberapa gejala yang terlihat :

  1. anak bisa berbicara dengan baik, tapi menulis dengan jelek
  2. mengeja dengan salah (kata dieja berbeda), terbalik, bunyi yang hampir sama, menghilangkan bunyi.
  3. salah mengerti pertanyaan atau kuis.
  4. salah mengurutkan angka dan terbalik menulis angka
  5. secara umum tidak mampu menulis (dengan waktu dan perhatian yang diberikan untuk itu)
  6. tidak konsisten : mencampuradukkan huruf, huruf besar dan kecil, ukuran huruf yang tidak teratur, bentuk huruf tidak teratur, bentuk benda yang tidak beraturan ukurannya.
  7. Tidak menyelesaikan kata atau huruf-huruf yang ditulisnya.
  8. Posisi menulis yang tidak konsisten pada halaman kertas dibandingkan garis dan batas kiri/kanan kertas.
  9. spasi yang tidak beraturan di antara huruf dan kata
  10. cara memegang pensil yang tidak biasa (karena pengaruh motorik halus), terutama memegang pensil sangat dekat dengan kertas atau jari jempol menutupi dua jari dan menulis dengan pergelangan tangan
  11. Bicara sendiri dengan keras saat menulis atau sangat memperhatikan tangan saat menulis
  12. Lambat dan sangat susah mencatat dan menulis, walaupun dari material yang sangat rapi dan mudah
  13. Kesulitan berpikir dan menulis pada saat yang sama (mencatat, mengarang)
  14. kesulitan membayangkan formasi huruf

Disgrafia

Kelainan neurologis ini menghambat kemampuan menulis yang meliputi hambatan secara fisik, seperti tidak dapat memegang pensil dengan mantap ataupun tulisan tangannya buruk. Anak dengan gangguan disgrafia sebetulnya mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.
Kesulitan dalam menulis biasanya menjadi problem utama dalam rangkaian gangguan belajar, terutama pada anak yang berada di tingkat SD. Kesulitan dalam menulis seringkali juga disalahpersepsikan sebagai kebodohan oleh orang tua dan guru. Akibatnya, anak yang bersangkutan frustrasi karena pada dasarnya ia ingin sekali mengekspresikan dan mentransfer pikiran dan pengetahuan yang sudah didapat ke dalam bentuk tulisan. Hanya saja ia memiliki hambatan.
Sebagai langkah awal dalam menghadapinya, orang tua harus paham bahwa disgrafia bukan disebabkan tingkat intelegensi yang rendah, kemalasan, asal-asalan menulis, dan tidak mau belajar. Gangguan ini juga bukan akibat kurangnya perhatian orang tua dan guru terhadap si anak, ataupun keterlambatan proses visual motoriknya.

Terapi Disleksia

Terapi
Menurut Kevin, saat anak diketahui mengalami gangguan disleksia, patut diberikan terapi sedini mungkin, seperti terapi mengulang dengan penuh kesabaran dan ketekunan untuk membantu si anak mengatasi kesulitannya. Anak-anak yang mengalami disleksia sering merasakan tidak dapat melakukan atau menghasilkan yang terbaik seperti yang mereka inginkan. Oleh karena itu mereka tidak bisa diberikan porsi yang sama dengan anak-anak lainnya.
Umumnya, anak-anak penderita disleksia sering dicap sebagai malas, bebal, bodoh, dan sebagainya. Padahal mereka adalah anak-anak pintar, jika diberi peluang dan mendapat bimbingan yang tepat. Apa yang bisa dilakukan untuk menolong anak-anak yang menderita gangguan disleksia ini? Bagi orangtua,
hal pertama yang perlu ditanamkan adalah menyayangi mereka, sama seperti anak-anak yang lain, baru kemudian membimbing sesuai dengan kesulitan yang dihadapi.
Orangtua dapat membantu menyiapkan jadwal harian agar anak-anak mengetahui apa yang harus dilakukan. Selain itu, dapat pula membantu menyiapkan alat sekolah dan perlengkapan sehari-hari lainnya. Bahkan jika di rumah ada perangkat komputer, ada baiknya anak dilatih menulis dan membaca dengan menggunakan komputer karena ada fasilitas pengecek ejaan (spelling checker).
Sementara guru-guru di sekolah bisa melakukan beberapa cara untuk membantu anak-anak ini, seperti menggunakan alat tulis berbagai warna untuk menulis kata yang penting, memberikan waktu istirahat selama 10 menit dari setiap 20 menit belajar membaca, memberikan waktu lebih saat menulis dan membaca.
Guru juga dapat memberikan soal atau tulisan dengan ukuran huruf yang lebih besar agar terlihat jelas dan dapat menarik penglihatan mereka. Intinya, anak-anak penderita disleksia perlu diberikan kesempatan yang sama dengan anak-anak lainnya karena mereka juga memiliki potensi yang besar. Dan anak-anak itu tidak boleh diberikan cap negatif.
Anak-anak tertentu, khususnya mereka yang disleksia, tidak akan pernah mampu membaca dengan kecepatan tinggi dan akan selalu mengalami kesulitan mengembangkan kemampuan mengeja yang sesuai usia. Disleksia dipandang sebagai gangguan biologis yang dimanifestasikan dengan kesulitan dalam belajar membaca dan mengeja walaupun diberi pengajaran konvensional dan memiliki kecerdasan yang memadai (Snowling, 1987).

3 Faktor utama penyebab Disleksia

• Faktor keturunan
Disleksia cenderung terdapat pada keluarga yang mempunyai anggota kidal. Orang tua yang disleksia tidak secara otomatis menurunkan gangguan ini kepada anak-anaknya, atau anak kidal pasti disleksia. Penelitian John Bradford (1999) di Amerika menemukan indikasi, bahwa 80 persen dari seluruh subjek yang diteliti oleh lembaganya mempunyai sejarah atau latar belakang anggota keluarga yang mengalami learning disabilities, dan 60% di antaranya punya anggota keluarga yang kidal.

• Problem pendengaran sejak usia dini
Apabila dalam 5 tahun pertama, seorang anak sering mengalami flu dan infeksi tenggorokan, maka kondisi ini dapat mempengaruhi pendengaran dan perkembangannya dari waktu ke waktu hingga dapat menyebabkan cacat. Kondisi ini hanya dapat dipastikan melalui pemeriksaan intensif dan detail dari dokter ahli.
Jika kesulitan pendengaran terjadi sejak dini dan tidak terdeteksi, maka otak yang sedang berkembang akan sulit menghubungkan bunyi atau suara yang didengarnya dengan huruf atau kata yang dilihatnya. Padahal, perkembangan kemampuan ini sangat penting bagi perkembangan kemampuan bahasa yang akhirnya dapat menyebabkan kesulitan jangka panjang, terutama jika disleksia ini tidak segera ditindaklanjuti. Konsultasi dan penanganan dari dokter ahli amatlah diperlukan.

• Faktor kombinasi
Ada pula kasus disleksia yang disebabkan kombinasi dari 2 faktor di atas, yaitu problem pendengaran sejak kecil dan faktor keturunan. Faktor kombinasi ini menyebabkan kondisi anak dengan gangguan disleksia menjadi kian serius atau parah, hingga perlu penanganan menyeluruh dan kontinyu. Bisa jadi, prosesnya berlangsung sampai anak tersebut dewasa.

Tindakan setelah mengetahuianak mengidap Disleksia

Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu anak dyslexia?
Setelah anak dievaluasi, hasilnya akan menunjukkan dengan cara bagaimana anak bisa belajar paling baik. Ada anak yang belajar lebih baik dengan cara visual (melihat), auditori (mendengarkan), dan taktil (menyentuh/meraba). Menggunakan gaya belajar yang sesuai untuk tiap anak sangat penting supaya mereka bisa belajar lebih baik. Berikut adalah contoh cara belajar untuk masing-masing type anak (saran-saran ini bersifat umum dan tidak harus digunakan secara mutlak pada tiap anak)

Visual (penglihatan)


Anak belajar paling baik dengan cara melihat informasi. Karena itu, cara mulai yang baik adalah dengan menggunakan kartu bergambar dengan kata-kata tertulis di bawahnya (flash card). Pilihlah kata-kata yang sesuai dengan level belajar anak. Selain itu, jika anak kesulitan dengan bunyi, tunjukkan di mana bunyi itu dibuat di dalam mulut secara umum.

Contoh : tunjukkan huruf /t/ pada kartu, lalu arahkan ke dalam mulut Anda. Buatlah bunyi /t/ dengan gerakan yang berlebihan. Biarkan anak meniru tindakan Anda sambil melihat ke dalam cermin. Tingkatkan dengan kombinasi suku kata 2 huruf (ta, ti) dan 3 huruf (tas, top), dengan cara menyuarakan dan menulis. Bantulah juga dalam hal kemampuan mengelompokkan dengan menggunakan gambar-gambar dan kata pada kalender harian. Ulanglah kalender ini setiap hari, lalu tandai tugas-tugas yang sudah selesai.

Auditori (pendengaran)


Anak-anak auditori belajar paling baik dengan cara mendengarkan apa yang diajarkan. Untuk anak yang kesulitan pada masalah bunyi, ajarkan sepasang kata singkat dan mintalah anak untuk mengatakan kata mana yang betul (tas/das). Juga, mintalah mereka menulis huruf, kata, atau kalimat sementara Anda mengucapkannya, untuk melatih kemampuan menulis. Bantulah juga dalam hal kemampuan mengelompokkan dengan memasang kalender “verbal” (diucapkan). Baca dengan keras kepada anak jadwal hariannya dan bantulah dia mengatur tugas, jadwal, dll.

Taktil (perabaan)


Anak-anak ini belajar paling baik dengan proses ‘menyentuh’. Ini adalah anak-anak yang biasa terlihat memisahkan bagian suatu benda dan kemudian menyatukannya kembali. Mereka belajar paling baik dengan melalui sentuhan, sehingga sangatlah penting untuk memasukkan gaya belajar ini ke dalam perintah-perintah Anda.

Contoh : Biarkan anak membuat bentuk huruf dari tanah liat, untuk membentuk kata singkat. Ulanglah bunyi dari tiap huruf sementara anak membuatnya. Selain itu, alat pengeja taktil juga penting untuk pembelajar type ini. Alat ini meliputi huruf-huruf bertekstur/guratan sehingga anak mendapat rabaan taktil sementara mengeja. Bantulah mengelompokkan dengan mengkombinasikan proses belajar visual dan taktil. Buat kalender dan tandai tiap tanggal penting dengan sticker timbul/bertekstur. Setiap hari, ulanglah kalender ini bersama anak dan buatlah ia menyentuh dan merasakan stiker tersebut. Kombinasi pembelajaran visual dan taktil akan membantu daya ingat.

Cara Mengidentifikasi Disleksia

Bagaimana mengidentifikasi dyslexia?


Identifikasi dyslexia mungkin sangat sulit dilakukan sebagai orang tua atau guru di kelas. Namun orang tua dan guru bisa melihat beberapa tanda dan gejala dyslexia, dan bisa mencari pendapat dan evaluasi dari ahli profesional/terapis yang tepat.

Perhatikan beberapa tanda berikut :



  • Kesulitan mengasosiasikan (menghubungkan arti) suatu huruf dengan bunyinya
  • Terbalik dengan huruf (dia jadi bia) atau kata (tik jadi kit)
  • Kesulitan membaca kata tunggal
  • Kesulitan mengeja kata tunggal
  • Kesulitan mencatat huruf/kata dari papan tulis atau buku
  • Kesulitan mengerti apa yang mereka dengar (auditory)
  • Kesulitan mengatur tugas, material, dan waktu
  • Kesulitan mengingat isi materi baru dan materi sejenisnya
  • Kesulitan dengan tugas menulis
  • Kesulitan pada kemampuan motorik halus (misalnya memegang alat tulis, mengancing baju)
  • Tidak terkoordinasi
Jika seorang anak menunjukkan sejumlah tanda-tanda dyslexia, rujuklah anak kepada lembaga pendidikan khusus atau ahli profesional yang terlatih dalam masalah dyslexia, untuk melakukan evaluasi menyeluruh. (Catatan : daftar tanda-tanda di atas tidak merupakan daftar mutlak tanda dan gejala dyslexia. Gunakanlah hanya sebagai panduan umum, bukan sebagai dasar diagnosis. Tanyakanlah dulu kepada ahli untuk rujukan selanjutnya)

Faktor Penyebab Disleksia

Faktor Penyebab

Faktor penyebab disleksia disinyalir melalui:

1. Faktor keturunan

2. Memiliki masalah pendengaran sejak usia dini

3. Faktor kombinasi kedua faktor di atas

Ada dua faktor lingkungan lingkungan yang telah dikaji pengaruhnya terhadap gangguan belajar pada anak, yaitu timbal dan cahaya udara. Bagaimana dengan lingkungan sekolah? Para peneliti telah mempelajari tiga faktor secara khusus, yaitu: ruangan kelas yang terbuka, pencahayaan dan kualitas udara. Sekalipun demikian, sampai saat ini belum ada riset yang memiliki bukti kuat yang membenarkan faktor pencahayaan atau pemasangan generator ion di dalam kelas benar-benar bisa mempengaruhi prestasi belajar siswa (Le Fanu, 2006).

Tindakan yang dilakukan orang tua

Cara yang Dilakukan oleh Orang Tua

Orang tua dapat melakukan program phonic di rumah dengan cara-cara sebagai berikut.

1. cobalah membuat jadwal harian untuk membiasakannya membaca.

2. istirahatlah barang sejenak apabila anak Anda terlihat kelelahan, lapar atau mulai jenuh.

3. jangan memberikan pelajaran terlalu lama dan banyak ketika baru pertama kali melakukannya.

4. buatlah target-target yang ingin dicapai.

5. beri reward & punishment pada anak setiap melakukan kemajuan dan kesalahan.

6. buat kesan pada kata-kata yang ada dalam cerita ketika dibacakan, anak tidak berarti harus mengulang kata.

7. mulailah dengan membaca beberapa halaman atau paragraf pertama dari sebuah cerita dengan suara keras agar anak Anda terpancing untuk menyimak.

8. buatlah aktivitas-aktivitas yang variatif dengan memberikan beberapa sesi untuk mengerjakan permainan-permainan huruf di samping aktivitas membaca.

9. jadikan sesi ini sebagai pengganti sesi membaca denga suara keras di hadapan anak Anda.

Berdasarkan bukti-bukti yang ada, pendekatan yang paling baik adalah dengan menggunakan guru kelas regular untuk anak-anak tersebut. Namun, apabila masih kesulitan, guru tersebut bisa dibantu oleh seorang spesialis, yang akan memberikan pelajaran membaca berikut penjelasan phonic.

Pemberian bantuan pada penderita Disleksia

Pemberian Bantuan

Cara yang paling sederhana dan efektif untuk membantu anak-anak yang mengalami gangguan disleksia adalah dengan memberikan pelajaran membaca dengan menggunakan metode phonic. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Gittelman & Feingold (1983; Le Fanu, 2006). Gittelman & Feingold memberikan kesimpulan sebagai berikut.

1. Intervensi terhadap pelajaran membaca dalam bentuk phonic benar-benar terbukti membantu anak-anak yang memiliki masalah dengan membaca.

2. Empat bulan bukanlah waktu yang terlalu panjang untuk menangani permasalahan membaca yang mereka kerjakan secara tuntas.

3. Kemajuan terjadi pada akhir perlakuan.

4. Tes-tes yang dimaksudkan untuk mengetahui jenis-jenis tertentu dari permasalahan membaca tidaklah diperlukan.

riset intervensi penderita Disleksia

Sebuah Pengalaman Mengintervensi Penderita Disleksia

Dalam prakteknya, Le Fanu (2006: 93-95) melakukan serangkaian tahapan sebagai berikut.

1. mengumpulkan data mengenai intelegensi dan kepribadian;

2. mengelaborasi lebih jauh pertanyaan-pertanyaan seputar kemungkinan bahwa anak pernah mengalami keterlambatan-keterlambatan perkembangan ketika masih kanak-kanak yang mana hal ini akan berpengaruh terhadap prestasi sekolah sang anak;

3. menguji kemampuan membaca anak untuk mengetahui pada tingkat berapa sebenarnya ia berada;

4. memberikan tes matematika tertulis. Jika permasalahannya pada membaca soal, tidak terhadap materi dan isi soal matematika itu, berarti ia mengalami gangguan dalam membaca;

5. melihat catatan dan laporan dari pihak sekolah. Ketika setiap mata pelajaran yang melibatkan kemampuan membaca secara individu, bukan lagi membaca dalam sebuah kelompok atau lainnya, penderita disleksia mulai mengalami kesulitan menyelesaikan pekerjaannya;

6. menemukan kemungkinan riwayat keluarga si anak. Bisa jadi ada kaitannya dengan faktor keturunan;

7. mengetahui lebih jauh mengenai kapasitas anak dalam memberikan perhatian kepada aktivitas-aktivitas yang ia senangi, seperti hobi seni, kerajinan tangan, dan game.

Hasil Riset tentang Disleksia

Hasil-Hasil Riset

1. Rutter dan rekan telah menganalisis lebih dari 10.000 anak-anak di Selandia Baru yang diikutkan dalam uji membaca standar. Usia anak-anak itu berkisar antara 7-15 tahun. Disleksia ditemukan pada 18 hingga 22 persen murid lelaki. Sedangkan pada murid perempuan hanya sekitar 8-13 persen saja (Magdalena, 2003). Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2004/0716/kes1.html

2. Disleksia ditandai dengan adanya dengan kesulitan membaca pada anak maupun orang dewasa yang seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca secara fasih & akurat. Angka penderita disleksia pada anak usia sekolah sekitar 5 sampai 17 di dunia. Kurang lebih 80 persen gangguan belajar mengalami disleksia (Rini Sekartini, 2007). Sumber: http://www.halalguide.info/content/view/720/70/

3. Pada pemeriksaan terhadap anak-anak Jerman dengan kesulitan membaca dan menulis serius, tim ilmuwan menemukan gen tertentu, yang diperkirakan berkontribusi terhadap masalah yang dihadapi anak-anak tersebut. Bagairnana gen tersebut berkontribusi? Hasilnya, belum jelas.
Diperkirakan gen tersebut mempengaruhi migrasi sel saraf di otak. Hasil temuan itu akan dipublikasikan dalam American Journal of Human Genetics edisi Januari 2006. Gen tersebut diindikasikan ilmuwan dari Amerika Serikat dan Inggris terletak di daerah koromosom 6. Tetapi kelompok peneliti Jerman dan Swedia telah mengidentiflkasikan suatu gen tunggal di daerah tersebut, yang ditemukan di antara anak-anak Jerman, yang merupakan faktor penting penyebab disleksia. Gen tunggal tersebut, menurut tim, dikenal sebagai gen DCDC2. Perubahan dalam gen DCDC2 sering kali diternukan di antara penderita disleksia. Perubahan gen kebanyakan ditemukan pada anak-anak yang memiliki masalah membaca dan menulis. Gen tersebut nampak memicu hubungan kuat dengan proses informasi berbicara saat menulis (Irfan Arief, 2007). Sumber:
Sumber: http://www.pjnhk.go.id/content/view/370/32/

4. Ferrei & Winwright (1984; Le Fanu, 2006) berpendapat bahwa permasalahan gangguan dalam belajar disebabkan oleh adanya ketidakcocokkan antara sphenoid dan tulang rawan pada otak. Ketidakcocokkan ini diduga berpengaruh terhadap cara kerja syaraf-syaraf yang mempengaruhi kerja otot-otot mata. Tetapi ternyata mereka tidak berhasil menemukan perbedaan apapun.

5. Pada tahun 1980 Irlen (Le Fanu, 2006) menemukan bahwa orang-orang disleksia mengalami gangguan serius pada indera penglihatan yang menyebabkan matanya mengalami kesulitan ketika harus menyesuaikan cahaya dari sumber-sumber tertentu, dengan tingkat kekontrasan tertentu. Kemampuan untuk menyesuaikan variasi-variasi cahaya disebut sebagai scotopic adaptation. Tetapi, hipotesisi Irlen ini tidak mempunyai memiliki basis riset yang kuat dan terpercaya.

6. Alfred Tomatis & Guy Berard (Le Fanu, 2006) mencoba mengungkap riset melalui auditory processing problems atau membedakan antara bagian-bagian kalimat yang terucap dengan suara-suara lain yang menjadi latar belakang dari dialog ketika kalimat-kalimat tersebut diucapkan. Hasilnya, tidak ada teori yang mendukung maupun yang menolaknya.

7. Jean Ayres (1972; Le Fanu, 2006) menegaskan bahwa disleksia disebabkan oleh adanya gangguan pada system vestibular. Vestibular merupakan bagian dalam telinga menjadi alat detektor posisi kepala terhadap gravitasi bumi dan menstransmisikan informasi ini ke dalam otak. Kemudian vestibular ini dikaitkan dengan indera penglihatan dan menyatakan bahwa gangguan dalam membaca disebabkan oleh lemahnya ‘integrasi sensorik’.

8. Palatajko (1985; Le Fanu, 2006) membuktikan bahwa gangguan dalam membaca dan gangguan vestibular merupakan dua keadaan yang terpisah dan tidak memiliki keterkaitan satu sama lain.

9. Sedangkan Levinson (Le Fanu, 2006) menegaskan adanya korelasi antara fungsi vestibular, cerebellum dan disleksia. Kemudian peneliti lain mengkritik tajam karena penelitian yang ia lakukan tidaklah memadai dan terlalu bias.

10. Glenn Doman (1960; Le Fanu 2006) berpendapat bahwa gangguan-gangguan dalam belajar terjadi karena seorang anak dalam perkembangan fungsi gerak pada organ tubuhnya tidak berada dalam urutan yang normal. Gangguan yang berkaitan dengan hal tersebut akan mempengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf dan selanjutnya menyebabkan gangguan dalam membaca. Tidak ada riset lain yang menunjang teori ini bahkan mendapat kritikan tajam dalam jurnal-jurnal kesehatan.

11. Tidak satu pun teori-teori alternatif yang berusaha menjelaskan penyebab disleksia ini didukung oleh bukti-bukti ilmiah, tetapi teori-teori ini tetap beredar dengan bebas (Le Fanu, 2006:75).

Kecenderungan pada anak Disleksia ketika menulis

Menulis pada Anak Disleksia

Ketika belajar menulis, anak-anak disleksia melakukan hal-hal berikut.

1. menuliskan huruf-huruf dengan urutan yang salah dalam sebuah kata;

2. tidak menuliskan sejumlah huruf-huruf dalam kata-kata yang ingin ia tulis;

3. menambahkan huruf-huruf pada kata yang ingin ia tulis;

4. mengganti satu huruf dengan huruf lainnya, sekalipun bunyi huruf-huruf tersebut tidak sama;

5. menuliskan sederetan huruf yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan bunyi kata-kata yang ingin ia tuliskan;

6. mengabaikan tanda-tanda baca yang terdapat dalam teks-teks yang sedang ia baca.

Penelitian tentang Disleksia

Disleksia adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktifitas membaca dan menulis. Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditunjukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar lainnya seperti keerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indra perasa. Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk kepada kehilangan kmampuan membaca pada seseorang dikarenakan kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini sering disebut sebagai “alexia”. Salain mempengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga ditengarai juga mempengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengindapnya. Selain itu juga mempengaruhi pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutas terbalik tetapi juga dalam berbagai macam termasuk urutan dari atas ke bawah.

Para peneliti menemukan adanya disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua.

Ciri anak menyandang Disleksia

Ciri-ciri yang dapat dilihat dari gejala disleksia adalah sebagai berikut.

  1. Lambat berbicara jika dibandingkan kebanyakan anak seusianya dan tidak dapat mengucapkan kata-kata secara benar.
  2. Lambat mengenali alfabet, angka, hari, minggu, bulan, warna, bentuk dan informasi dasar lainnya, serta sulit dalam mengurutkan huruf-huruf dalam kata.
  3. Sulit menyuarakan fonem dan memadukannya menjadi sebuah kata.
  4. Sulit mengeja secara benar, bahkan mungkin anak akan mengeja satu kata dengan bermacam ucapan.
  5. Sulit mengeja kata atau suku kata dengan benar. Anak bingung menghadapi huruf yang memiliki kemiripan bentuk
  6. Membaca satu kata dengan benar di suatu halaman, tetapi salah dihalaman berikutnya.
  7. Kesulitan memahami apa yang dibaca.
  8. Sering terbalik dalam menuliskan kata
  9. Rancu dengan kata-kata yang singkat, misalnya ke, dari, dan, jadi.
  10. Bingung menentukan tangan mana yang dipake untuk menulis
  11. Lupa mencantumkan huruf besar, serta lupa meletakan tanda-tanda baca lainnya
  12. Menulis huruf dan angka dengan hasil yang kurang baik/tulisannya jelek sekali
  13. Terdapat jarak pada huruf-huruf dalam rangkaian kata, tulisannya tidak stabil, kadang naik dan kadang turun
  14. Punya kebiasaan membaca terlalu cepat hingga salah mengucapkan kata atau bahkan terlalu lambat dan terputus-putus
  15. Rancu dalam memahami konsep kiri kanan, atas bawah, utara selatan, timur barat.
  16. Memegang alat tulis terlalu kuat/keras
  17. Sulit mengikuti lebih dari sebuah instruksi dalam waktu yang sama.

Gejala Disleksia

Anak belum sekolah dengan disleksia bisa jadi terlambat bicara, memiliki masalah artikulasi berbicara, dan mempunyai kesulitan mengingat nama-nama huruf, angka, dan warna. Anak disleksia sering kesulitan memadukan suara, irama kata, mengenali letak suara pada kata, segmenting kata-kata ke dalam bunyi, dan mengenali bunyi huruf pada kata. Keterlambatan atau keragu-raguan dalam memilih kata-kata. Membuat kata pengganti, menamai angka dan gambar adalah indikasi awal disleksia. Masalah dengan daya ingat jangka pendek untuk suara dan untuk meletakkan suara pada perintah yang tepat sering terjadi.

Banyak anak dengan disleksia bingung dengan hurup dan kata yang serupa. membalikkan huruf ketika menulis-sebagai contoh, on diganti menjadi no, dan saw diganti menjadi was-atau huruf yang membingungkan-sebagai contoh, b diganti menjadi d, w diganti menjadi m, n diganti menjadi h-sering terjadi. Meskipun begitu, banyak anak tanpa disleksia akan membalikkan hurup pada waktu taman kanak-kanak atau tingkat pertama.<>


penyebab Disleksia

Disleksia terjadi ketika otak kesulitan membuat hubungan antara suara dan symbol (hurup). Kesulitan ini disebabkan oleh masalah kurang mengerti dengan hubungan otak tertentu. Masalah itu ada sejak lahir dan bisa menyebabkan mengeja dan menulis salah dan mengurangi kecepatan dan ketepatan ketika membaca dengan suara keras. Orang dengan diseleksia tidak memiliki masalah memahami bahasa yang dibicarakan.

Gangguan Belajar Disleksia

Disleksia adalah Disleksia adalah gangguan membaca tertentu meliputi kesulitan memisahkan kata-kata tunggal dari kelompok kata dan bagian dari kata (phonemes) dalam setiap kata.

Disleksia adalah jenis tertentu dari gangguan belajar yang mempengaruhi diperkirakan 3 sampai 5 % anak-anak. Teridentifikasi lebih pada anak laki-laki dibandingkan dengan anak perempuan : bagaimanapun, bisa dengan mudah tidak dikenali lebih sering pada anak perempuan. Disleksia cenderung menurun dalam keluarga.

Penembuhan Autis

Penanganan yang diterapkan :
1. Penanganan Biomedis
2. Medikamentosa
3. Terapi Sensory Integration
4. Terapi ABA
5. Pendidikan Khusus

Diagnosa Autisme

Diagnosa Autisme paling tepat adalah dengan cara seksama mengamati prilaku anak dalam berkomunikasi,bertingkah laku dan tingkat perkembangannya.
Dikarenakan banyaknya perilaku autisme juga disebabkan pleh adanya kelainan lainnya (bukan autis) sehingga tes klinis dapat pula dilakukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab hal tersebut.
Cara diagnosa palingideal adalah dengan memeriksakan anak ke beberapa tim dokter dan ahli profesi di bidang autis.

KarakteristikAutisme

Tidak bisa menguasai atau lamban dalam penguasaan bahasa sehari-hari. selain itu hanya bisa mengulang beberapa kata,mata tidak bersinar,tidaksuka atau tidak mau melihat orang lain,hanya suka akan mainanya sendiri,dan merasa memilikidunianya sendiri.

Penyebab Autisme ( Lanjutan 2 )

Perdebatan yang terjadi akhir-akhir ini berkisar kemungkinan penyebab autisme yang disebabkan oleh vaksinasi anak. peneliti dari Inggris, Andrew Wakefield, Bernard Rimland dari AS mengadakan penelitian tentanghubungan antara vaksinasidan autisme,vaksinasiMMR ( Meales, Mumps Rubella) namun ternyata imunisasi MMR tidak menyebabkan Autisme.

Penyebab Autisme (lanjutan)

Penyebab Autisme belum diketahui pasti. Beberapa ahli menyebutkan autis disebabkan karena multifaktorial. beberapa peneliti lainnya mengungkap autis disebabkan gangguan Biokimia, ahli lainnya menyebutkan autisme disebabkan olehgangguan jiwa. selain ituada pula ahliyang menyebutkan penyebab autis adalah akibat kombinasi makanan yang salah dan lingkungan yang tidaksehat serta terkontaminasi oleh racun yang menyebabkan kerusakan pada usus besar yang menyebabkan masalahdalam tingkah laku dan fisik,termasuk Autisme.

Penyebab Autisme

Sepuluh tahun yang lalu penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor psikologisnya saja.
tetapisekarang penelitian mengenai autisme semakin berkembang dan menunjukan bahwa autisme mempunyai penyebab Neurobiologis yang sangat kompleks.
Gangguan Neurobiologis ini dapat disebabkan oleh interaksi faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa perkembangan otak.

Autistic Disorder

Munculsebelum usia 3 tahun dan ditunjukan denagn adanya hambatan dalam interaksi sosial,komunikasi dan kemampuan bermain secara imaginatif serta prilaku stereotipe pada minatdan aktivitas.

Selasa, 13 April 2010

Kategorisasi Autisme

Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder R-IV merupakan salah satu dari 5 jenis gangguan di bawah payung PPD ( Perpassive Development Disorder) di luar ADHA ataupun ADD

Karakteristik Autisme

Ada 6 karakteristik anak penyandang Autisme dala bidang yaitu :
1. Interaksi sosial
2. Komunikasi (bahasa dan bicara)
3. Prilaku-emosi
4. Pola bermain
5. Gangguan sensorik dan motork
6. Perkembangan terlambat

Pengertian Autisme

Autisme adalah suatu kondisis dimana seorang anak sejak lahir ataupun sejak balita yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan dengan orang lain dan terisolasi dari manusia lain. dan ia masuk ke dalam dunia Repetitive,aktivitas dan minat obsesif.